Tiga Generasi Watchdog Pemilu (1): Bermula di Era Ottoman

0
203

Munculnya kegiatan pemantauan pemilu, berjalin kelindan dengan tiga gelombang demokratisasi yang melanda permukaan bumi.

Pemantauan pemilu bermula dari daratan Eropa bagian timur, lebih dari seratus tahun silam. Ketika itu, negara-negara utama di Eropa, yaitu Prancis, Inggris, Prusia, Rusia, Austria, dan Khilafah Turki Usmani (Ottoman), melakukan pemantauan atas referendum di Moldavia dan Wallachia, yang berada di tenggara Eropa. Referendum digelar pada 1857.

Photo: Fotoblend/Pixabay

Meminjam pembagian Samuel Huntington —dalam The Third Wave; Democratization in the Late Twentienth Century—, periode ini adalah saat terjadinya gelombang pertama demokratisasi. Gelombang pertama ini berlangsung sejak 1828 hingga 1926.

Saat referendum, Moldavia dan Wallachia merupakan wilayah yang berada di bawah Turki Usmani (Ottoman). Bersatunya Moldavia dan Wallachia lewat referendum, kemudian menjadi embrio negara Rumania. Setelah Rumania eksis, negara itu pun kemudian lepas dari Turki Usmani.

Sekadar informasi, Wallachia merupakan Kawasan tempat cerita drakula berasal. Drakula sendiri merupakan nama seorang Pangeran Wallachia, Vlad III Dracula. Dia terkenal dengan julukan Vlad the Impaler, karena membunuh puluhan ribu tentara Turki Usmani dengan cara kejam. Keganasan itu belakangan berubah cerita horor drakula penghisap darah dalam film-film Hollywood. Adapun dalam sejarahnya, Vlad Dracula –yang memang suka mendiami kastil-kastil dingin di bukit-bukit curam– dibunuh oleh Sultan Muhammad II, atau Sultan Muhammad Al-Fatih, pada akhir 1476 atau awal 1477.

Muncul lagi pasca Perang Dunia II

Kendati telah dimulai pada medio tahun 1800-an, namun sampai beberapa dekade berikutnya, pemantau pemilu tetap masih asing. Aktivitas pemantauan pemilu muncul kembali setelah berakhirnya Perang Dunia II, yang hampir berbarengan waktunya dengan berhembusnya gelombang kedua demokratisasi, antara tahun 1943 hingga 1962. Pada periode ini, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), antara lain, telah diminta menjadi pemantau pemilu di Jerman dan Korea.

Eric Brahm dalam artikelnya Election Monitoring, menyatakan laju dekolonisasi yang melanda dunia pada kurun 1950-an hingga 1960-an, melahirkan generasi pertama pemantau pemilu dari lembaga PBB. Pemantauan pemilu saat itu, antara lain dilakukan untuk memastikan jujur dan adil tidaknya pemilu yang digelar di suatu negara.

Selanjutnya, muncul generasi kedua. Misi pemantauan telah lebih komprehensif. Pemantauan pemilu pun kian menjadi pemandangan biasa, terutama setelah berakhirnya Perang Dingin, dan tumbuhnya konsensus global tentang nilai-nilai demokrasi.

Bahkan, dimulai di Namibia pada 1989, pemantauan pemilu juga mengemban misi lebih. “Pemantauan pemilu menjadi bagian dari banyak sisi upaya internasional untuk mendukung perjanjian damai, dan membantu merekonstruksi sistem politik dan ekonomi,” demikian Eric Brahm dalam artikelnya di laman beyondintractability.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here