Teriak Nyaring Pemilih Belia (1): Stupid Adult vs Smart Youth?

0
355

Kampanye penurunan usia pemilih menjadi 16 tahun terus bergulir di sejumlah negara maju. Amerika pernah mengurangi usia pemilih karena Perang Vietnam. Bagaimana dengan negara lain?

Photo: Freeillustrated/Pixabay

If we let stupid adults vote, why not let smart youth vote? Ungkapan menohok ini berasal dari National Youth Right Association (NYRA), sebuah lembaga yang getol mengampanyekan penurunan usia pemilih di Amerika Serikat, dalam publikasi bertajuk Top Ten Reasons to Lower the Voting Age.

Masih ada sembilan alasan lagi yang dipaparkan NYRA di laman youthrights.org. Antara lain, karena remaja merupakan pembayar pajak. NYRA menaksir pajak penjualan yang dibayarkan remaja Amerika mencapai 9,7 miliar dolar AS. “Anda boleh saja masih remaja, belum memiliki pekerjaan tetap, tapi anda telah membayar pajak lewat uang yang anda keluarkan (saat berbelanja dan lain-lain)… sehingga remaja harus diberi hak untuk memilih.”

Anda boleh saja masih remaja, tapi anda telah membayar pajak… sehingga remaja harus diberi hak untuk memilih

National Youth Right Association (NYRA)

Alasan lain, menurut NYRA, adalah agar para politikus lebih peduli kepentingan remaja. Karena, remaja pun telah menjadi konstituen. Selain itu, pemberian hak pilih kepada remaja juga akan meningkatkan angka partisipasi pemilih (voters turn out) di Amerika, yang selama ini terbilang jeblok: selalu di bawah 50 persen.

NYRA menampik anggapan remaja akan menggunakan hak pilih secara keliru. “Semua pemilih memiliki alasan sendiri untuk memilih. Kita boleh tidak setuju dengan alasannya, tapi kita harus menghargai hak mereka untuk memutuskan,” tandas organisasi yang didirikan lebih dari satu dekade lalu itu.

Turunkan menjadi 16 tahun?

Organisasi yang memiliki 10 ribu anggota di 50 negara bagian Amerika Serikat itu, mengadvokasi penurunan umur pemilih dari 18 tahun —yang sekarang ditetapkan dalam konstitusi AS— menjadi 16 tahun. Usia 16 tahun dinilai pas karena remaja masih memiliki akar di komunitasnya: masih sekolah, tinggal di rumah orangtua, dan memiliki teman-teman yang sama. Sehingga, ini pun akan berdampak pada terangkatnya isu-isu lokal.

Photo: Youthrights.org

Sementara, seseorang yang telah berusia 18 tahun, kebanyakan telah meninggalkan rumah dan komunitasnya, baik untuk belajar di universitas, atau untuk bekerja. Sehingga, remaja pada usia ini pun kemudian harus memilih di sebuah komunitas baru yang tidak familiar. Kenyataan ini, kemudian membuat banyak pemilih berusia 18 ini menjadi golput. Jadi, “Turunkan usia pemilih, dan remaja akan menggunakan hak pilih nya,” demikian NYRA menandaskan.

Saat ini, sebanyak 201 negara di atas permukaan muka bumi, memberi hak pilih (right to vote) kepada warga negaranya yang berumur 18 tahun. Indonesia tidak termasuk di dalamnya, karena memberi hak pilih kepada orang berusia 17 tahun, bahkan boleh lebih muda lagi jika yang bersangkutan sudah menikah.

Tapi, sebelum dekade 1970, mayoritas negara-negara di dunia menetapkan usia 21 tahun. Chekoslovakia adalah negara pertama yang mengurangi umur pemilih menjadi 18 tahun, pada 1946 lalu. Kemudian, diikuti sebagian besar negara-negara Eropa Barat dan negara-negara di belahan bum lainnya pada tahun 1970-an.

Kini, angka itu hendak dikorting lagi. Akankah berhasil?

Bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here