Teriak Nyaring Pemilih Belia (2): The Sick Double Standard?

0
198

Kampanye penurunan usia pemilih menjadi 16 tahun terus bergulir di sejumlah negara maju. Amerika pernah mengurangi usia pemilih karena Perang Vietnam. Bagaimana dengan negara lain?

Amerika mengurangi usia pemilih menjadi 18 tahun pada 1971, melalui amandemen ke-26 konstitusi. Perang Vietnam adalah pemicunya. Saat itu, orang berusia 18 tahun sudah dikenakan wajib militer, dan tak sedikit yang pulang dalam peti mati.

Photo: Geralt/Pixabay

Sebelum diubah, usia pemilih di Amerika adalah 21 tahun. Kondisi tersebut kemudian memicu protes: bila orang berusia 18 tahun telah memikul kewajiban sebagaimana orang dewasa, bahkan harus mati karenanya, mengapa mereka tak diberi hak pilih? Dalam ungkapan National Youth Right Association (NYRA), diskriminasi seperti itu merupakan “the sick double standard”.

Selain di Amerika, upaya penurunan syarat usia pemilih (eligible vote), juga terjadi di sejumlah negara demokrasi maju. Penurunan hak pilih menjadi 16 tahun juga diajukan di Inggris, Jerman, Denmark, Australia, Selandia Baru, Swiss, Kanada, dan Venezuela. Tapi, sampai saat ini, baru satu negara yang berhasil, yaitu Austria.

Voting age hingga candidacy age

Austria menurunkan umur pemilih menjadi 16 tahun pada tahun 2007 lalu. Hal itu diterapkan untuk semua level pemilihan, baik tingkat lokal, negara bagian, maupun maupun nasional/federal. Sebelum itu, Austria berulang kali menurunkan usia pemilihnya.

Mulanya, usia pemilih di Austria adalah 19 tahun. Pada 1992, usia pemilih diturunkan menjadi 18 tahun. Partai Hijau melanjutkan upaya penurunan usia pemilih dengan mengajukan pengurangan menjadi 16 tahun. Pada 2003, empat negara bagian yang menyelenggarakan pemilu tingkat kota, mengadopsinya. Yaitu, Burgenland, Carinthia, Styria dan Vienna. Langkah itu kemudian diikuti oleh negara bagian lainnya di Austria.

Photo: Youthrights.org

Upaya penurunan usia pemilih itu kian bertenaga setelah koalisi Partai Sosial Demokrat Austria dan Partai Rakyat Austria memenangkan pemilu tahun 2006. Pada 12 Januari 2007, koalisi pemenang pemilu ini menyampaikan pengumuman bahwa salah satu kebijakan yang akan mereka golkan adalah mengurangi usia pemilih menjadi 16 tahun, di semua level pemilihan.

Koalisi itu, menurut artikel bertajuk Voting Age di laman Wikipedia, mengupayakan penurunan umur pemilih melalui amandemen konstitusi. Karena sudah mengantongi suara mayoritas, amandemen itu pun lolos. Bahkan, bukan hanya berhasil menurunkan usia pemilih, mereka juga berhasil memelorotkan usia kandidat untuk dipilih (candidacy age), dari 19 tahun menjadi 18 tahun.

Kalah voting di Inggris

Di Inggris, upaya mengurangi usia pemilih itu telah masuk lembaga legislatif, baik majelis rendah (House of Commons), maupun majelis tinggi (House of Lords). House of Commons mempertimbangkan usulan itu secara serius pada 15 Desember 1999, ketika sebuah komite membahas RUU Representasi Publik yang diusulkan oleh Simon Hughes. Pemerintah Inggris saat itu menentangnya. Soal ini pun kemudian diputuskan lewat voting, namun kalah dengan skor 36:434.

Photo: Coombesy/Pixabay

Gagal di House of Commons (DPR), usulan itu belakangan bergulir di House of Lords (Senat). “Votes at 16 coalition”, sebuah grup politik dan amal, yang diluncurkan 29 Januari 2003, merupakan penyokongnya. Usulan itu disampaikan lewat RUU Private Member yang diajukan Lord Lucas, anggota House of Lords. Usulan ini juga kandas. Tapi, gagasan untuk menurunkan umur pemilih tetap tak terbendung.

Pada 3 Juli 2007, Kementerian Kehakiman Inggris memublikasikan Green Paper, yang antara lain mengusulkan pembentukan Youth Citizenship Commission —yang bertugas mengeksaminasi penurunan usia pemilih. Saat itu, Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, mengatakan, “Meski usia pemilih 18 tahun telah ditetapkan sejak 1969, adalah benar untuk menelaah dan mendengarkan dari kalangan muda sendiri, apakah penurunan usia pemilih akan meningkatkan partisipasi pemilih.”

Lolos di tingkat lokal

Kendati sejumlah negara demokrasi belum berhasil melakukan penurunan umur pemilih untuk tingkat nasional/federal, sejumlah negara telah berhasil menerapkannya di tingkat lokal dan negara bagian. Sebelum Austria berhasil mengurangi usia pemilih menjadi 16 tahun di empat negara bagian pada 2003 lalu, Jerman lebih dulu menguranginya pada 1990-an, untuk pemilu tingkat kota di sejumlah negara bagian.

sebanyak 19 negara bagian di Amerika membolehkan orang berusia 17 tahun memilih dalam primary.

Pada 1995, sebuah negara bagian di Jerman, yaitu Lower Saxony, mengurangi usia pemilih menjadi 16 tahun untuk pemilu tingkat negara bagian. Langkah ini kemudian diikuti oleh empat negara bagian lainnya.

Di Amerika, usulan mengurangi usia pemilih menjadi 16 tahun juga masuk lembaga legislatif sejumlah negara bagian. Belum berhasil, tapi tak dapat dikatakan gagal. Sebab, mereka berhasil menurunkan usia pemilih, menjadi 17 tahun. Bukan usia pemilih dalam pemilu, memang, tapi hanya usia pemilih dalam pemilu pendahuluan.

Saat ini, sebanyak 19 negara bagian di Amerika membolehkan orang berusia 17 tahun memilih dalam pemilihan pendahuluaan tipe primary. Namun, mereka baru boleh memilihdalam pemilihan pendahuluan tipe kaukus jika berusia 18 tahun pada hari pemungutan suara. ■

End.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here