Bagaimana Mereformasi Sistem Pemilu?

0
380

Pada mulanya hanya dua ada dua tipe atau dua keluarga besar sistem pemilu. Yaitu, sistem proporsional dan mayoritas/pluralitas. Dari sana berkembang tipe sistem pemilu lain, dan terus beranak pinak, bercucu, dan bercicit.

Setelah sistem pemilu tersebut dipadukan dengan berbagai elemen sistem pemilu lainnya, berdasarkan perhitungan para ahli, setidaknya telah ada 300-an model sistem pemilu yang pernah diterapkan di permukaan bumi. Elemen sistem pemilu lainnya antara formula electoral dan menghitung kursi dan menentukan calon terpilih, besaran daerah pemilihan, ambang batas pemilu, dan lain-lain.

Photo: Mohamed Hassan/Pixabay

Dalam buku Electoral System Design: The New International IDEA Handbook, para pakar mengklasifikasi sistem pemilu ke dalam empat tipe. Yaitu sistem proporsional, sistem mayoritas/pluralitas, sistem campuran, dan sistem lain-lain (lihat Empat Keluarga Besar Sistem Pemilu).

Para pakar penyusun buku itu, adalah Andrew Reynolds, Ben Reilly, Andrew Ellis, Jose Antonio Cheibub, Karen Cox, dan lainlain. Buku ini diterbitkan IDEA —organisasi antarpemerintah yang beranggotakan negara-negara dari seluruh benua untuk penguatan institusi demokrasi— pada tahun 2005 silam.

Tapi, ada juga yang membaginya menjadi tiga sistem. Yaitu, sistem proporsional, sistem mayoritas/pluralitas, dan sistem campuran. Tiga sistem ini, antara lain dikutip Mulyana W Kusumah dan Pipit R Kartawidjaja, dalam Sistem Pemilu dan Pemilihan Presiden; Suatu Studi Banding.

Dan, Andrew Reynolds —pakar pemilu yang awal Mei 2011 lalu datang ke Indonesia— lewat papernya yang bertajuk Electoral Systems and the Protection and Participation of Minorities, juga pernah membagi sistem pemilu menjadi tiga. Yaitu, mayoritas/pluralitas, proporsional, dan semi proporsional. Laporan ini diterbitkan oleh Minority Right Group International (MRG) tahun 2006.

Ada empat varian yang dimasukkan Reynolds ke dalam sistem mayoritas/pluralitas, yaitu first past the post, alternative vote, two round system, dan block vote.

Untuk sistem proporsional, Reynolds membaginya atas list proportional representation (list PR) atau di Indonesia kerap disebut sistem proporsional daftar;  mixed member proportional (MMP); dan single transverable vote (STV).

Sedangkan, untuk sistem semi proporsional, Reynolds membaginya atas sistem paralel dan single non transverable vote (SNTV).

Andrew Reynold Photo: Courtesy Youtube

Di sana dapat dilihat perbedaannya. Pada buku yang diterbitkan IDEA, MMP masuk dalam kategori sistem campuran, dan SNTV masuk sistem lain-lain. Sedangkan, dalam buku yang

diterbitkan MRG, MMP masuk dalam kategori sistem proporsional, sedangkan SNTV masuk dalam sistem semi proporsional. Perbedaan lainnya, sistem parallel di buku IDEA dikategorikan sebagai sistem campuran, sedangkan di buku MRG masuk kategori sistem semi proporsional.

Posisi Indonesia

Lantas, bagaimana dengan posisi Indonesia? Menelisik daftar yang dibuat oleh berbagai lembaga, penulis mendapati Indonesia dikategorikan secara berbeda-beda.

Photo: Enriquelopezgarre/Pixabay

IDEA, misalnya, masih menempatkan Indonesia sebagai penganut sistem proporsional daftar (list PR). Begitu pun dengan Statistik Demokrasi (Democracy Statistics) yang dirilis oleh NationMaster.

Sementara itu, daftar di Wikipedia sudah membuat kategorisasi yang lebih spesifik. Indonesia ditempatkan sebagai negara yang menerapkan proporsional daftar calon terbuka (open lists), dengan metode penghitungan kuota hare (hare quota).

Daftar yang dibuat Wikipedia ini, lebih spesifik, karena sejak tahun 2004, Indonesia telah meninggalkan sistem proporsional tertutup yang dipraktikkan sejak tahun 1955- 1999. Indonesia telah menggantinya dengan sistem proporsional daftar calon terbuka, di mana pemilih tak hanya memilih tanda gambar, tapi juga memilih calon anggota legislatif.

Meski umumnya Indonesia dimasukkan kelompok negara penganut sistem proporsional daftar, namun ada pula yang berbeda. Buku yang ditulis Mulyana W Kusumah dan Pipit R Kartawidjaja, misalnya, memasukkan Indonesia sebagai penganut sistem campuran (mixed, hybrid), bersama dengan sistem MMP.

Reformasi sistem pemilu selalu dibutuhkan, namun harus dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Dieter Nohlen

Khusus untuk MMP, Andrew Reynolds dalam Electoral System Design, memasukkannya sebagai sistem campuran. Tapi dalam Electoral Systems and the Protection and Participation of Minorities, memasukkannya sebagai sistem proporsional.

Pendapat berbeda lagi, pernah disampaikan Direktur Eksekutif Center for Electoral Reform (Cetro), Hadar Nafis Gumay. Dia berpendapat bahwa MMP masih termasuk dalam keluarga besar sistem proporsional. Cetro –yang pernah menawarkan sistem MMP sebagai pengganti sistem proporsional terbuka– menerjemahkan MMP sebagai “sistem proporsional campuran.”

Tak ada yang sempurna

Perdebatan soal pengelompokan ini memang bisa panjang. Tapi, dalam membicarakan sistem pemilu, ada satu hal yang pasti: para pakar mendapati bahwa tak ada satu pun sistem pemilu yang sempurna. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Seperti taplak yang tak mampu menutupi seluruh permukaan meja. Jika ditarik ke kiri, maka sebagian permukaan meja menjadi terbuka. Begitu pun saat ditarik ke kanan, atau ke berbagai sisi lainnya.

Dieter Nohlen Photo: Courtesy Youtube

Karena itu, para pakar pemilu —seperti Dieter Nohlen— pun sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa tak ada satu sistem pemilu pun yang dapat diklaim sebagai paling baik. Tapi, di antara sistem-sistem tersebut, negara-negara yang menerapkannya bisa memilih yang paling cocok sesuai konteks negara tersebut.

Dieter Nohlen, mengatakan reformasi sistem pemilu selalu dibutuhkan. Namun, guru besar politik Universitas Heidelberg ini —seperti dikutip Mulyana dan Pipit— mengajak masyarakat untuk melihat empat hal dalam mereformasi sistem pemilu.

Apa empat hal yang diwanti-wanti oleh pakar pemilu Jerman itu? Pertama, menganalisis sistem yang dipakai. Kedua, memastikan secara jelas tujuan perbaikan sistem pemilu. Ketiga, mencari solusi untuk memperoleh sistem pemilu yang sesuai dengan tujuan tersebut. Keempat, sistem alternatif yang dihasilkan diperbandingkan dengan sistem-sistem lainnya di dunia. ■

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here