Soekarno, Soeharto, dan Partai Politik (4): Kritik Tajam Bung Hatta dalam Demokrasi Kita

0
322

Sistem kepartaian seperti apa yang seharusnya dianut Indonesia? Berapa jumlah partai yang sebaiknya berdiri di Indonesia? Sejak Indonesia merdeka, soal ini menjadi perdebatan di kalangan founding fathers bangsa ini. Dan, persoalan tersebut, belum selesai diperdebatkan sampai saat ini. Berikut dinamika partai dan sistem kepartaian di Indonesia sejak Indonesia merdeka hingga pengujung Orde Baru:

Poster Bung Hatta. Photo frame: Pixabay

Di tengah situasi kemunduran demokrasi yang mulai melanda Tanah Air, Bung Hatta tampil mengkritik lewat sebuah risalah terkenal berjudul Demokrasi Kita yang dimuat majalah Pandji Masjarakat edisi Mei 1960. Bung Hatta mempersoalkan penguburan partai-partai; pembubaran Konstituante sebelum mengakhiri masa tugasnya —yang ditulis Hatta atas desakan tentara—; pembubaran DPR hasil Pemilu 1955 dan pembentukan DPR Sementara yang anggotanya ditunjuk presiden.

“Lenyaplah sisa-sisa demokrasi yang penghabisan. Demokrasi terpimpin Soekarno menjadi suatu diktator yang didukung oleh golongan-golongan tertentu,” tulis Hatta.

Namun, Hatta juga mengkritik kalangan partai, yang dinilainya turut berperan besar bagi krisis demokrasi. Dia menyebut para pemimpin partai saat itu dirasuki semangat ultrademokratis. Sebuah demokrasi yang menurutnya tidak kenal batas kemerdekaannya, lupa akan syarat-syarat hidupnya, dan melulu menjadi anarki.

Demokrasi bisa tertindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan penuh keinsyafan

Bung Hatta

“Demokrasi yang berakhir dengan anarki membuka jalan untuk lawannya: diktator… Ini adalah hukum besi daripada sejarah dunia!” tulis Hatta.

Hatta menyebut pemimpin-pemimpin partai gagal menjalankan tugasnya. Lebih banyak mengabaikan Pancasila daripada menaatinya. Akibatnya, Indonesia semakin jauh dari cita-citanya. “Sejarah Indonesia 10 tahun yang akhir ini seolah-olah mencerminkan apa yang dilukiskan oleh Schiller ‘suatu masa besar telah dilahirkan abad. Tetapi, masa besar itu menemui manusia kerdil’,” tulisnya.

Akibat krisis demokrasi tersebut, tulis Hatta, banyak orang menyangka bahwa demokrasi lenyap dari Indonesia. Namun, Hatta menyatakan pendapat tersebut tidaklah benar. Hatta pun kemudian menyampaikan pendapatnya yang menjadi kutipan terkenal: “Demokrasi bisa tertindas sementara karena kesalahannya sendiri, tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan penuh keinsyafan.”

Membaca risalah tersebut, Soekarno berang. Majalah Pandji Masjarakat dibreidel. Bukan hanya itu, risalah Hatta itu pun dilarang diedarkan. Hukuman menanti siapa saja yang menyimpannya. Dan, pembubaran partai pun terus berlanjut.

Bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here