Skandal Dana Kampanye (5): Korupsi Politik adalah Ibunya Korupsi

0
360

Penulis buku Korupsi Pemilu di Indonesia, Ibrahim Fahmy Badoh, meminta pendanaan partai dan pendanaan kampanye menjadi fokus pantauan publik. “Karena aliran dana politik dipercaya menjadi sebab sekaligus akibat dari lingkaran setan korupsi politik,” kata Bekas Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW), ini, kepada penulis, Oktober 2011, lalu.

Photo: Geralt/PIxabay

Seberapa dominan sumbangan cukong untuk dana kampanye?

Kalau sumbangan yang skalanya besar biasanya cukong. Dan cukong nggak cuma menyumbang di satu kandidat. Bisa jadi dia menyumbang ke partai, kandidat potensial. Dan itu banyak. Partai-partai semua tiarap sama cukong. Mereka tidak punya mekanisme proteksi sehingga pemodal besar pasti akan berpengaruh di dalam partai. Itu saya kira membuat suatu partai terkooptasi, atau bergantung secara ekonomi kepada seseorang. Dan, sekarang kita bisa lihat, partai dengan mudahnya digunakan untuk memenangkan kepentingan bisnis pemodal-pemodal besar. Ini sebenarnya yang akan mengancam demokrasi secara keseluruhan.

Artinya partai masih menjadi tempat pencucian uang?

Ya, pencucian uang dan untuk membeli pengaruh terhadap keuntungan yang bisa didapatkan cukong di masa depan. Jadi alat proteksi bisnis dan lain-lain. Dalam teori korupsi, ini disebut investive corruption atau ‘korupsi investasi’. Karena menyumbang partai berbeda dengan menyumbang mushalla atau gereja, yang dilakukan dengan ikhlas hanya mengharap pahala. Kalau menyumbang partai, pamrihnya tentu saja kepentingannya dibela. Dan kalau pemodal besar, kepentingannya adalah proyek-proyek. Ini yang susah dibendung.

Photo: Dokumen Pribadi/Facebook

Kalau begini, seberapa sulit memberantas korupsi di Indonesia?

Sulit. Di mana-mana korupsi politik itu adalah the mother of corruption, ibunya dari korupsi. Jadi, kalau korupsi melibatkan unsur kekuasaan pasti akan besar pengaruhnya. Karena dia susah untuk diberantas. Lihat saja, secanggih apapun KPK, goyang juga kalau digoyang sama DPR. Artinya, dia juga bisa menjadi tidak profesional kalau ditekan secara politik. Itu dampak dari korupsi politik.

Sebagian besar kasus-kasus korupsi di Indonesia ada kaitannya dengan korupsi politik?

Menurutku skala terbesar korupsi di Indonesia adalah korupsi politik. Meskipun yang kita potret dalam keseharian itu fenomena pengadaan barang dan jasa, atau fenomena lain. Tapi, kalau kita bedah, yang bermain di belakangnya kepentingan-kepentingan politik. ■

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here