Quick Count di Indonesia (4): Presisi Tinggi, Carter dan Liddle Dituding Bermain

0
349

Penghitungan suara resmi pemilu yang berlangsung lama, membuka peluang lebar untuk melakukan kecurangan. Apalagi, bila harus melewati banyak tangan. Karena itulah, penting untuk mengawal hasil pemilu. Tapi, selain menongkrongi penghitungan dari tempat pemungutan suara (TPS), desa/ kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat, ada berbagai cara lain untuk mengawal hasil pemilu. Antara lain dengan quick count, real count, exit poll, hingga crowdsourcing. Semua cara sudah diterapkan di Indonesia. Mari kita susuri jejaknya:

Photo: Mirko Grisendi/Pixabay

Presisi tinggi hasil quick count LP3ES-NDI dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden putaran pertama, menuai banyak tanggapan miring. Tak kurang Menteri PPN/Kepala Bappenas, Kwik Kian Gie, angkat bicara. Dia menduga adanya campur tangan mantan presiden AS, Jimmy Carter, dan Guru Besar Ohio State University, William Liddle, terhadap proses Pemilu 2004.

“Yang mengerti pemilu presiden (pilpres) itu bukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan bukan pengamat-pengamat Indonesia. Yang mengendalikan semua dan yang mengerti tentang pemilu dan pilpres ini adalah William Liddle dan Jimmy Carter. Pada pemilu legislatif, hanya sehari NDI sudah memprediksi secara tepat hasil pemilu. Pada pilpres juga begitu. Pada malam harinya, NDI sudah memberitahu hasilnya. Yang mengerti itu mereka semua. Jadi, bukan hanya bidang ekonomi, ngurus politik juga tidak bisa kalau tidak ditolong. Itu sungguh menyedihkan. Sekarang, semakin lama semakin kelihatan bahwa demokratisasi ini hanya bisa kalau ditongkrongin Carter, Liddle, dan NDI,” demikian pendapat Kwik seperti dikutip buku Pemilu Legislatif 2004 yang diterbitkan KPU.

Posisi NDI banyak mendapat kritik. Pasalnya, lembaga ini, dinilai merupakan anak asuh Partai Demokrat di AS. Tapi, sebenarnya, hasil quick count LP3ES-NDI itu, mirip dengan temuan Forum Rektor. Forum Rektor melakukan PVT dengan sampel 2.500 TPS di 29 provinsi (lihat Hasil Quick Count Pilpres 2004, Putaran I [5 Juli 2004]).

Insed versus LP3ES-NDI di putaran kedua

Menjelang pelaksanaan pilpres putaran kedua yang dijadwalkan 20 September 2004, kubu PDI Perjuangan mempersiapkan quick count tandingan. Tim Kampanye Mega-Hasyim menggandeng Institute for Social Empowerment and Democracy (Insed).

Maka, beberapa jam setelah pemungutan suara digelar, bertarunglah kedua hasil quick count itu. Pada pukul 15.00 WIB, Tim Kampanye Mega-Hasyim mengumumkan Mega-Hasyim menang tipis dengan 50,07 persen suara, sedangkan SBY-JK meraih 49,93 persen.

Sementara itu, quick count LP3ES-NDI, sejak awal konsisten menyatakan SBY-JK menang. Hingga pukul 17.00 WIB, sampel dari 1.190 TPS masuk, dan SBY-JK meraih 61,5 persen, sedangkan Mega-Hasyim hanya 38,5 persen. Keesokan harinya, hasil final dari 1.942 TPS diumumkan, dengan SBY-JK meraih 60,2 persen, dan Mega-Hasyim 39,8 persen.

Polemik hasil quick count itu berakhir pada 4 Oktober, ketika KPU mengumumkan rekapitulasi hasil penghitungan manual. KPU menyatakan SBY-JK meraih 69.266.350 suara atau 60,62 persen. Sedangkan, Mega-Hasyim hanya meraup 44.990.704 suara, atau 39,38 persen. Lagi-lagi, hasil penghitungan KPU berselisih tipis dengan quick count LP3ES-NDI ((lihat
Hasil Quick Count Pilpres 2004, Putaran II [20 September 2004]).

Mengomentari presisi tinggi hasil quick count dengan penghitungan manual KPU itu, seorang penulis surat pembaca menulis di sebuah harian nasional. Dia membuat tamsil menarik tentang quick count. “Ternyata”, kata dia, “Untuk membuktikan air laut itu asin, tak perlu meminum seluruh isi lautan. Tapi, cukup mencicipinya.” Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here