Quick Count di Indonesia (3): Hitung Cepat LP3ES-NDI yang Bikin Terperangah

0
429

Penghitungan suara resmi pemilu yang berlangsung lama, membuka peluang lebar untuk melakukan kecurangan. Apalagi, bila harus melewati banyak tangan. Karena itulah, penting untuk mengawal hasil pemilu. Tapi, selain menongkrongi penghitungan dari tempat pemungutan suara (TPS), desa/ kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat, ada berbagai cara lain untuk mengawal hasil pemilu. Antara lain dengan quick count, real count, exit poll, hingga crowdsourcing. Semua cara sudah diterapkan di Indonesia. Mari kita susuri jejaknya:

Photo: Geralt/Pixabay

Meski penghitungan paralel (parallel vote tabulation) alias quick count ala Namfrel sudah diterapkan di Indonesia sejak Pemilu 1997 –dan berlanjut pada Pemilu 1999– namun istilah quick count belumlah benar-benar populer. Istilah tersebut baru benar-benar menyentak benak publik pada Pemilu 2004, ketika hitung cepat berhasil memprediksi hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden dengan akurasi yang menakjubkan.

Quick count saat itu dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) bekerja sama dengan National Democratic Institute (NDI). Quick count ini, masuk dalam kategori PVT berbasis sampel (sample based PVT). Seperti namanya hitung cepat ini hanya menghitung sampel. Berbeda dengan real count atau PVT komprehensif yang metodenya lebih mirip sensus.

Karena pakai sampel, quick count LP3ES-NDI ini juga mirip dengan survei politik pra pemilu. Mirip, memang. Bedanya, bila dalam survei yang diukur adalah opini, dalam quick count yang diukur adalah fakta. Karena, sampelnya adalah hasil penghitungan suara di tempat pemungutan suara (TPS).

Tak seperti dalam Pemilu 1997 dan Pemilu 1999, hitung cepat LP3ES-NDI dilakukan secara nasional. Sampelnya 2.500 TPS di 32 provinsi. Ada 5.000 relawan yang dikerahkan. Hasil quick count itu mulai diumumkan pada hari pemungutan suara 5 April. Dan, pada 6 April, hasilnya telah final. Dan, quick count itu membuat banyak pihak terhenyak, karena Partai Golkar —yang terpuruk pada Pemilu 1999— didapati telah come back dan menjadi pemenang pemilu.

Saat itu, hasil quick count masih banyak disikapi secara skeptis. Tapi, setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan penghitungan suara secara manual pada 5 Mei 2004 —atau tepat sebulan setelah pemungutan suara— nyatalah bahwa hasil quick count bukan tebak-tebak buah manggis. Betapa tidak. Perbedaan hasil penghitungan manual KPU dengan quick count bak setipis rambut. Selisih rata-ratanya hanya 0,15 persen (lihat Hasil Quick Count Pileg 2004). Jauh di bawah ambang kesalahan (margin of error) yang dipatok satu persen.

Sukses dengan pemilu legislatif, LP3ES-NDI kembali menyasar pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres), yang untuk pertama kalinya digelar secara langsung. Pilpres digelar pada 5 Juli 2004. Ada lima pasang kandidat yang saat itu bertarung. Pengumuman hasil quick count LP3ES-NDI saat itu, menyatakan ada dua pasangan calon yang lolos ke putaran kedua, yaitu SBY-JK dan Mega Hasyim.

Hasil akhir quick count yang diumumkan pada 6 Juli, atau sehari setelah pemilu, menyatakan SBY-JK meraih 33,2 persen suara, sedangkan Mega Hasyim 26,0. Sementara itu, Wiranto-Salahuddin yang didukung partai pemenang pemilu legislatif, yaitu Golkar, hanya berada di posisi ketiga dengan 23,3 persen suara. Pasangan Amien Rais-Siswono, yang sempat disebut-sebut punya kans besar memenangkan pemilu —mengingat Amien adalah lokomotif reformasi 1998— terpuruk di peringkat keempat, dengan 14,4 persen suara.

Dan, sekali lagi, prediksi quick count itu membuat terperangah setelah KPU mengumumkan hasil penghitungan manual pada 26 Juli, atau tiga pekan setelah pemungutan suara. Setelah disandingkan, rata-rata selisih penghitungan KPU dengan quick count hanya 0,49 persen. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here