Politik Uang, Modus, dan Aktor (2): Broker Besar, Broker Kecil, dan Kehebatannya

0
198

Pada 2010 lalu, ada dua survei khusus tentang politik uang (money politics). Selain itu, ada pula penelitian lapangan yang dilakukan oleh seorang peneliti dari University of Leeds, Inggris, Daniel Bumke. Hasilnya setali tiga uang: politik uang semakin menggila.

Pembelian suara, ungkap Bumke, umumnya tidak dilakukan tim kampanye atau kandidat. Tapi, dilakukan dengan perantaraan para broker. Para broker ini, selain bertugas mengantarkan uang dan sembako, umumnya juga berperan sebagai orang yang memobilisasi massa untuk kepentingan kampanye. Para broker ini merupakan tim kampanye tidak resmi. Mereka kerap diistilahkan sebagai “tim sukses”, bahkan calo.

Photo: Peggy und Marco Lachmann-Anke/Pixabay

Meski sosoknya dalam struktur tim kampanye resmi tidak ada, namun para broker ini biasanya memiliki ketokohan, juga massa. Di Thailand, menurut penelitian Hanna, para broker ini umumnya adalah pimpinan komunitas dan keluarganya, guru agama, hingga preman berpengaruh. Menurut Daniel, gambaran Hanna itu, sama dengan yang ditemukannya di Jawa Barat dan Bengkulu.

Sekadar informasi, di Thailand, para broker ini disebut sebagai huakhanaen. Di era Orde Baru, padanannya adalah ‘kader’ atau ‘sponsor’. Namun, kini telah mengalami pergeseran. Menurut Bumke, istilah kader dalam kasus Indonesia kontemporer, tidak lagi merefer broker, tapi benar-benar digunakan untuk anggota dan kader partai. Dan kini, “Kendati kader partai bisa berperan sebagai broker, namun tak semua broker adalah kader,” tandasnya.

Istilah sponsor pun, jelas Bumke, kini tidak lagi merupakan sebutan para broker, tapi telah dinisbatkan untuk individu-individu berkantong tebal, seperti pebisnis, yang menjadi beking partai dan kandidat. Para sponsor ini pun tidak turun langsung ke lapangan.

Rekrutmen broker

Para broker yang bekerja di tengah pesta demokrasi di Indonesia, tulis Bumke, mempunyai beragam kehebatan. Selain mampu mengerahkan massa untuk demonstrasi kapan saja diperlukan, mereka juga sanggup memberi garansi jumlah suara yang bisa mereka berikan kepada kandidat dan partai. Selain itu, mereka juga berperan mengamankan kawasannya dari gangguan kampanye kandidat dan partai lain.

Tak heran bila para broker suara ini direkrut sejak tahap awal kampanye. Bahkan, merekrut broker inilah, kata Bumke, yang menjadi concern utama tim kampanye. Yang pertama direkrut biasanya broker besar. Broker besar inilah yang kemudian merekrut broker-broker kecil.

“Kepercayaan adalah kunci hubungan ini, meskipun tidak dapat dipastikan apakah broker tersebut benar-benar memberikan uang kepada pemilih, atau mampu menyediakan pemilih sebanyak yang mereka klaim pada hari pemungutan suara,” jelas Bumke.

Termasuk di antara para broker, ungkap Bumke, adalah pejabat rendah di pemerintahan, kepala desa, guru agama, pimpinan LSM, dan –untuk kasus Bengkulu– pimpinan klan. Dalam sejumlah kasus, broker bisa jadi adalah aktivis partai.

“Yang jelas, pembelian suara pada saat fajar menjelang pemungutan suara, merupakan langkah terakhir dari hubungan panjang yang dibangun para broker, yang secara berkala diperkuat dengan kucuran uang,” papar Bumke.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here