Percaya Internet Banking, Kok Nggak Percaya E-Voting?

0
165
Photo: Dokumen Pribadi/Facebook

Seaman internet banking. Begitulah Kepala Program E-Voting BPPT, Andrari Grahitandaru, menyebut e-voting. Dia pun mengklaim mesin e-voting yang didesain BPPT lebih maju daripada bikinan India. Benarkah? Berikut petikannya wawancaranya:

Pemilu 2014 sudah bisa e-voting?

Bergantung undang-undangnya. Kalau DPR maksa, ya ayo ubah undang-undangnya. Kita sekarang terbentur regulasi.

Dari sisi teknologi siap?

Sudah, sudah. Setelah kami melakukan berbagai simulasi, sosialisasi, yang menjadi ganjalan, pertama, adalah kepercayaan masyarakat. Sehingga kami punya strategi lain, bahwa perangkat e-voting itu terbuka, dan bisa diuji.

Kalau ada error di e-voting, mungkinkah mengecek lagi sampai ke tingkat TPS?

Data hasil pemungutan suara memang tidak tersimpan di dalam mesin e-voting, tapi di memori semacam flashdisk. Kalau mesin tiba-tiba macet atau rusak, bisa diganti mesin yang lain. Dan, sebagai bukti nanti kalau ada sanggahan, kita pakai persyaratan standar dalam teknolog e-voting, yaitu mengeluarkan semacam struk ATM. Jadi, orang yakin bahwa saya pilih nomor empat. Di struk itu tidak ada keterangan apa-apa, baik tanggal, jam, hanya nomor empat. Sehingga, tidak bisa ketahuan siapa yang memilih nomor empat. Kemudian, kertas struk itu dimasukkan ke kotak suara. Begitu selesai pemungutan suara dan ada pihak yang mempersoalkan hasil perhitungan, kita bisa buka kotak suara.

Teknologi apa yang digunakan?

Direct Recording Electronic (DRE). DRE ini ada dua macam. Biasanya layar sentuh dan panel atau papan suara elektronik. India menggunakan DRE panel. Tapi, jauh tidak memenuhi standar internasional. Makanya, setiap mesin hanya Rp 2 jutaan harganya. Mesin e-voting India tidak bisa mengeluarkan kertas sebagai bukti audit, sehingga ketika pemilih memencet nomor empat, dia tidak tahu apakah benar-benar nomor empat.

Yang disiapkan BPPT mesin e-voting seperti apa?

Kami sebenarnya tidak menyiapkan. Kami hanya mendesain yang cocok untuk Indonesia. Nanti industri dalam negeri yang memproduksi. Kita tidak pakai produksi luar.

Menurut Anda apa saja kekurangan e-voting?

Faktor manusianya yang trust-nya masih kurang. Secara teknologi nggak ada kekurangan. Teknologi itu apa sih? Sangat mudah! Apalagi teknologi e-voting. Sederhana sekali, ha-ha-ha…

Tapi, kita sudah melakukan simulasi dan analisa statistik di Pandeglang, 26 Desember 2010. Yang memilih ada orang tidak berpendidikan. Kita tanya setuju atau tidak dengan e-voting? Mereka 99 persen setuju dan percaya, walaupun sebelumnya rata-rata tidak tahu apa itu e-voting. Tapi, mereka bilang mudah.

Keberhasilannya berapa persen?

Seratus persen. Pemilihnya di TPS yang satu 162, TPS yang lain 150. Waktu itu kami menggunakan calonnya nama-nama pahlawan. Begitu pemungutan suara ditutup, langsung ketahuan hasilnya. Setelah itu, kita cocokkan struk-nya secara manual, dan hasilnya sama. Waktu itu kita menggunakan perangkat yang digunakan di Filipina.

Bagaimana dengan jaringan listrik?

Kami mempersyaratkan perangkat e-voting harus bisa berjalan tanpa listrik, tapi pakai baterai yang bisa beroperasi minimal 10 jam. Supaya bisa dipakai di daerah perbatasan dan di daerah-daerah yang rumit dan tidak ada listrik.

Bagaimana dengan hacker?

Itu tidak mungkin terjadi. Karena ketika melakukan pemungutan suara, perangkat e-voting tidak boleh tersambung ke perangkat apapun. Nah, yang di India, salahnya, alat mereka punya fasilitas bluetooth. Jadi, orang bisa menembus datanya. Kita nanti pakai offline saat pemungutan suara. Hanya saat pengiriman datanya yang online pakai jaringan yang aman, teknologinya sama dengan internet banking.

Kenapa kita percaya dengan internet banking, padahal itu menyangkut transaksi uang di seluruh bank yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah, tapi tidak percaya teknologi yang sama untuk mengirimkan data suara dari TPS ke KPU? Itu kan aneh. Uang yang triliunan saja bisa aman.

Akan dibandrol berapa mesin e-voting yang didesain BPPT?

Kalau touch screen, nggak lebih Rp 5 juta.

Harga itu ekonomis?

Mesin e-voting itu kan tidak habis pakai lalu dibuang, tapi bisa dipakai berkali-kali.

Satu mesin bisa untuk berapa pemilih?

Terserah. Bisa seribu orang. E-voting itu akan berlangsung enam jam, mulai jam 07.00-13.00. Menurut pengalaman kami, rata-rata 20 sampai 30 detik per orang. Tinggal kita kalikan. ■

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here