Operation Quick Count (3): Menyalakan Lilin, Mengawal Publik

0
377

Jika ada cerita tentang hitung cepat (quick count) yang paling spektakuler, Filipina lah tempatnya. Di negeri jiran itu, count count bukan hanya menampilkan hasil pemilu secara cepat, tapi bahkan berhasil menumbangkan seorang diktator. Siapa lagi kalau bukan Presiden Ferdinand Marcos.

“It’s better to light a candle, than to curse the darkness.” Peribahasa itu sampai saat ini masih tertulis di situs web milik Namfrel, namfrel.com.ph. Logonya pun tetap sama, yaitu gambar tangan yang memegang lilin. Sepintas, logonya mirip gedung kodok di Senayan, dengan nyala api di bagian atasnya.

Photo: Namfrel.com.ph

Menelusuri arsip-nya, kita masih bisa menemukan dokumentasi operation quick count. Antara lain kliping koran bertanggal 11 Februari 1986, berjudul He died ‘lighting a candle’. Ini berita tentang relawan Namfrel yang tewas saat memantau Pemilu Presiden (Pilpres) 1986.

Lebih baik menyalakan lilin, ketimbang mengutuk kegelapan. Apa yang mereka maksud? Tidak lain, adalah pemantauan pemilu itu sendiri. Dengan aktif memantau pemilu, kita tidak akan perlu lagi mengutuk hasil pemilu yang jahil dan penuh kecurangan.

Saat itu, Namfrel merekrut para relawan dari seluruh Filipina. Sekitar 500 ribu relawan, dan mengerahkannya ke sekitar 90 ribu TPS di seluruh Filipina. Mereka mengamati semua TPS, mencatat hasilnya, merekapitulasi hasilnya di pusat tabulasi, dan mengumumkannya di tally board di ruang-ruang publik.

Hasilnya, hasil pemilu menjadi terang-benderang. Kecurangan pemilu yang melibatkan penyelenggara pemilu berhasil dikalahkan, dan rezim yang melakukan kecurangan berhasil ditumbangkan.

Penyala lilin, pengawal publik

Lembaga ini, telah menginspirasi banyak negara untuk mendirikan pemantau pemilu domestik, termasuk Indonesia. Bahkan, bukan hanya gagasan, pada awal pendirian pemantau pemilu pertama di Indonesia (KIPP), telah diwacanakan untuk mendatangkan trainer dari Namfrel.

Tapi, tak seperti pemantau pemilu di Indonesia yang kini sempoyongan karena kekurangan dana, Namfrel masih kokoh. Lembaga ini tercatat masih memiliki 250 ribu relawan yang tersebar di seantero Filipina. Mereka terdiri atas kalangan sipil, pebisnis, profesional, buruh, pemuda, akademisi, tokoh agama, hingga LSM.

Pada 2010 lalu, Namfrel tidak mendapatkan akreditasi untuk menggelar penghitungan suara sendiri. Meski demikian, Namfrel tetap menggelar pemantauan pemilu di seluruh negeri, dengan misi bertagline “Bantay ng Bayan” atau “Pengawal Publik”.

Pusat tabulasi hasil pemilu Namfrel. Photo: Namfrel.com.ph.

Saat ini, keterlibatan Namfrel di dunia internasional semakin luas. Pengurus dan relawan Namfrel, bekerja sebagai trainer, anggota tim pemantau, dan kegiatan pemilu lainnya di 31 negara.

Dari mana Namfrel mendapatkan dana untuk kegiatannya? Wikipedia menuliskan Namfrel disokong 140 dermawan. Di situs Namfrel, nama-nama donator untuk pemilu 2010 lalu, dipampang secara lengkap. Kebanyakan adalah donatur lokal. Di situs tersebut, juga ada penjelasan bagaimana memberikan donasi kepada Namfrel. Donatur diminta mengirimkan pemberitahuan di sebuah email. Selanjutnya, petugas dari Namfrel yang menemui donatur secara langsung.

Namfrel pernah dituding menerima dana dua juta dolar AS dari Amerika untuk mendanai quick count dalam Pilpres 1986. Namun, Namfrel tegas membantah berbagai rumor itu. “Kami tidak pernah menerima dana Amerika,” demikian penjelasan pimpinan Namfrel, Christian S Monsod. ■

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here