Operation Quick Count (2): Cara Terbaik Mengawasi Penghitungan Suara

0
376

Jika ada cerita tentang hitung cepat (quick count) yang paling spektakuler, Filipina lah tempatnya. Di negeri jiran itu, count count bukan hanya menampilkan hasil pemilu secara cepat, tapi bahkan berhasil menumbangkan seorang diktator. Siapa lagi kalau bukan Presiden Ferdinand Marcos.

Operasi quick count Namfrel dalam bentuk penghitungan suara parallel pada Pemilu Presiden Filipina 1986. Photo: Namfrel.com.ph

Spektakulernya dampak quick count di Filipina, masih menjadi cerita sukses quick count, hingga kini. National Democratic Institute (NDI), bahkan menempatkan cerita tersebut sebagai contoh kasus teratas dalam buku bertajuk The Quick Count and Election Observation; An NDI Handbook for Civic Organization and Political Parties.

Ada banyak contoh penerapan quick count —termasuk di Indonesia— yang termuat di buku tersebut. Namun, khusus kisah Filipina, selain ditempatkan paling atas, juga diberi boks untuk memberi penekanan tertentu. Kisah ringkas itu diberi judul Quick Count History: The Namfrel Example. “Namfrel telah dikenal luas sebagai pioner quick count di negara berkembang,” demikian NDI.

Sejak penerapannya oleh Namfrel, quick count telah mengalami evolusi. Kini, menurut NDI, quick count telah menjadi cara terbaik bagi civil society untuk mengawasi pemungutan suara dan proses tabulasinya.

ACE Electoral Knowledge dalam Quick Count of Voting Result menyatakan quick count telah menjadi instrumen pengawasan pemilu. Selain telah berhasil mencegah manipulasi hasil pemilu di Filipina, ACE menyatakan quick count juga mencegah manipulasi hasil pemilu di Panama dan berbagai negara lainnya.

Tergusur E-voting

Tapi, kisah heroik quick count di Filipina, rupanya berumur pendek. Namfrel tidak lagi menggelarnya pada pemilu 2010 lalu. Itu karena perkembangan teknologi yang telah memungkinkan hasil pemilu resmi diketahui sama cepatnya dengan quick count, yaitu melalui pemungutan suara secara elektronik atau electronic voting (e-voting).

“Tidak ada lagi quick count. Tapi, kami akan tetap menggelar penghitungan paralel untuk keperluan audit,” anggota Komite Eksekutif Namfrel, Damaso Magbual, seperti dikutip abscbnnews.com.

Pemilu Filipina 2010. Photo: Namfrel.com.ph

Anggota Comelec, Gregorio Larrazabal, menyatakan dengan e-voting, hasil pemilu dapat diketahui secara cepat, kendati tanpa quick count. “Segera setelah data (hasil pemilu) terkirim ke server Comelec, kami akan meng-upload data itu ke situs web kami. Sehingga, masyarakat bisa langsung melihat hasilnya,” kata Gregorio.

Filipina menerapkan teknologi pemindaian optik untuk e-voting. Surat suaranya mirip dengan soal ujian nasional di Indonesia. Ada lingkaran-lingkaran yang diisi dengan pensil. Surat suara itu, kemudian di-scan. Hasilnya selanjutnya dikirimkan ke server Comelec.

Dan, baik quick count maupun e-voting, sama-sama ramah bagi klan Aquino. Pilpres 2010 lalu dimenangkan oleh Benigno Aquino III. Sementara, keluarga Marcos belum berhenti dirundung malang. Setelah Ninoy Aquino menang, harta Imelda Marcos disita, berikut ribuan koleksi sepatunya yang ada di Istana Malacanang.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here