Operation Quick Count (1): Beda Hasil, Marcos pun Tumbang

0
533

Jika ada cerita tentang hitung cepat (quick count) yang paling spektakuler, Filipina lah tempatnya. Di negeri jiran itu, count count bukan hanya menampilkan hasil pemilu secara cepat, tapi bahkan berhasil menumbangkan seorang diktator. Siapa lagi kalau bukan Presiden Ferdinand Marcos.

Poster Pilpres Filipina 1986. Photo: Namfrel.com.ph

Dalam berbagai catatan sejarah, Ferdinand Marcos tumban berkat aksi massa (people power) di Epifanio de los Santos Avenue (EDSA), di Quezon City, Metropolitan Manila. Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai EDSA People Power itu membuat Marcos hengkang dari Istana Malacañang. Marcos —yang telah membuat rakyatnya muak karena korupsi— akhirnya terbang ke Hawaii.

Corazon Aquino, janda mendiang Benigno Aquino, musuh bebuyutan Marcos yang dibunuh di Bandara Internasional Manila, kemudian dilantik sebagai presiden. Cory Aquino dilantik sebagai presiden ke-11 Filipina pada 25 February 1986.

Lalu, apa saham quick count terhadap tumbangnya Marcos? Itu terjadi setelah quick count berhasil menyodorkan data pembanding penghitungan suara, yang menelanjangi kecurangan pemilu yang dilakukan rezim Marcos.

Snap election

Ceritanya begini. Menjelang pertengahan tahun 1980-an, Marcos tiba-tiba memutuskan mempercepat pemilu presiden (snap election). Pilpres yang seharusnya digelar pada 1987, dimajukan menjadi 1986. Tepatnya, 7 Februari 1986.

Saat itu, kalangan masyarakat sipil mengorganisasi diri untuk melakukan pemantauan pemilu. Yang paling menonjol saat itu adalah Citizen Movement for Free Election (Namfrel).

Pusat tabulasi hasil pemilu Comelec. Photo: Namfrel.com.ph

Namfrel mulai bergerak sejak Oktober 1983, menjadi bagian dari Komite Pendaftaran Pemilih. Pada 1984, KPU Filipina (Comelec) memberi akreditasi kepada Namfrel untuk menggelar penghitungan manual secara paralel (parallel vote tabulation). Nama kegiatannya adalah “Operation Quick Count.”

Organisasi yang didirikan Jose S Conception Jr, ini, menurunkan 500 ribu relawan untuk memantau 90 ribu tempat pemungutan suara (TPS) di seantero Filipina. Hasil penghitungan suara dari TPS-TPS itu mereka kumpulkan, direkapitulasi di pusat tabulasi yang mirip dengan milik Comelec, serta diumumkan di tally board yang dipasang di tempat-tempat publik.

Hasil pemilu disanggah

Pada 15 Februari, Comelec mengumumkan pilpres dimenangkan Ferdinand Marcos. Comelec menyatakan Marcos meraih 10.807.197 suara atau 53,62 persen. Sedangkan pesaingnya, Corazon Aquino, meraih 9.291.761 suara atau 46,10 persen. Sisanya diraih calon lainnya.

Hasil Pilpres Filipina 1986. Photo: Courtesy Wikipedia

Tapi, hasil pemilu yang diumumkan Comelec itu disanggah oleh quick count yang digelar Namfrel. Namfrel menunjukkan hasil sebaliknya: Corazon Aquino lah yang menang.

Menurut versi Namfrel, Aquino meraih 7.502.601 suara. Sedangkan, Marcos hanya meraih 6.787.556 suara.

Pemilu pun diduga dicurangi. Dan, keluarnya 29 teknisi komputer dari Comelec, kian menegaskan dugaan itu. Maka, hasil pilpres pun kemudian mendapat penolakan luas dari masyarakat, bahkan melahirkan aksi massa besar-besaran, melibatkan dua juta orang. Menjadi people power yang menumbangkan Marcos.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here