Mengenal Formula Elektoral (2): Metode Penghitungan Populer dan Penemunya

0
318

Bagaimana suara yang anda berikan dalam pemilu menjadi kursi, dan bagaimana pula para caleg/kandidat terpilih (yang akan menduduki kursi itu) ditentukan? Caranya adalah dengan menggunakan formula elektoral. Ini merupakan salah satu elemen penting dan paling harfiah dalam kajian sistem pemilu.

Formula elektoral tersebut ditemukan oleh para negarawan, politisi, pengacara, hingga ahli matematika. Dalam perjalanannya, metode-metode tersebut mengalami berbagai penyesuaian, modifikasi, hingga lahir varian-varian penghitungan lainnya. Berikut metode-motode penghitungan populer, para penemunya, dan sedikit cerita di baliknya:

1. METODE LARGEST REMAINDER (KUOTA HARE)

Metode Kuota Hare (Hare quota) diciptakan Thomas Hare, ilmuwan politik dan anggota Partai Konservatif Inggris. Thomas Hare pendukung penerapan sistem proporsional varian single transferable vote (STV).

Metode Kuota Hare ini menghendaki adanya penetapan kuota, yaitu membagi jumlah suara sah dengan jumlah kursi tersedia, yang dilanjutkan dengan penghitungan sisa suara terbesar untuk mengklaim kursi tersisa. Dalam bahasa UU Pemilu di Indonesia, kuota biasa disebut dengan istilah Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).

Padanan metode ini adalah Metode Hamilton di Amerika Serikat, yang merujuk pada nama penemunya pada 1792, yaitu Alexander Hamilton. Metode ini pernah digunakan dalam pemilihan anggota kongres AS pada abad ke-19, serta pemilu di Rusia, Ukraina, Namibia, dan Hongkong.

Selanjutnya, ditemukan Droop quota pada 1868 silam. Droop quota merujuk pada penemunya, yaitu Henry Richmond Droop, seorang pengacara dan matematikawan Inggris. Droop quota ini awalnya dirancang sebagai pengganti Hare quota, namun ternyata tak sanggup mengalahkan popularitas Hare quota.

Saat ini, Droop quota masih banyak diterapkan di negara-negara yang menerapkan sistem STV, seperti Irlandia, Malta, dan Australia, sedangkan Hare quota justru banyak diterapkan pada negara yang menerapkan system proporsional daftar (List PR).

2. METODE HARE-NIEMEYER

Metode perhitungan ini diambil dari nama pakar matematika Jerman, Horst Friedrich Niemeyer, yang merupakan penggagasnya. Seperti halnya metode Largest Remainder, metode ini dianggap paling proporsional dibanding D’Hondt maupun Sainte-Lague.

3. METODE D’HONDT

Metode D’Hondt merujuk nama pakar matematika Belgia, Victor D’Hondt. Metode ini menggunakan bilangan pembagi tetap (BPT) 1, 2, 3, 4, dan seterusnya.

Padanan metode ini ditemukan di Amerika, dengan nama Metode Jefferson, yang merujuk nama negarawan Amerika Serikat, Thomas Jefferson.

Metode D’Hondt ini juga ekuivalen dengan Metode Bader-Ofer. Sistem ini, menurut para pakar, cenderung menguntungkan partai-partai besar. Dan, proporsionalitasnya dinilai lebih rendah dibanding Sistem Divisor lain seperti Sainte-Lague.

4. METODE SAINTE-LAGUE

Metode Sainte-Lague merujuk nama pakar matematika Perancis, Andre Sainte Lague. Metode ini mirip dengan D’Hondt, namun menggunakan angka berbeda dalam melakukan pembagian, yaitu serial bilangan ganjil: 1, 3, 5, 7, dan seterusnya. Metode dinilai lebih menguntungkan partai-partai menengah.

Metode Sainte-Lague ini mempunyai hasil akhir yang identik kendati cara penghitungannya berbeda, yaitu Metode Webster —yang diambil dari nama pengajurnya, Senator AS, Daniel Webster, serta Metode Schepers yang diambil dari nama penganjurnya, Hans Schepers. ■

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here