Kisah Para Dukun Politik (2): Adu Sakti Gallup versus The Literary Digest

0
187

Sejak kapan jajak pendapat publik dalam kaitan dengan pemilu (election poll) digelar? Riwayatnya sudah hampir dua abad. Tapi, jajak pendapat modern seperti yang kita kenal sekarang menjelang pemilu dan pilkada, baru muncul setelah diperkenalkan oleh Gallup. Berikut kisah para dukun politik dan kesaktiannya, termasuk di Indonesia:

Terus memprediksi orang nomor satu Gedung Putih secara akurat, The Literary Digest semakin percaya diri. Menjelang Pilpres 1936, majalah yang berbasis di New York City, ini, kembali mengirimkan sepuluh juta kartu pos. Dan, yang dikirim balik jumlahnya mencengangkan, bahkan untuk ukuran saat ini, yaitu 2,3 juta kartu pos.

Berbekal hasil penghitungan dengan sampel luar biasa besar itu, sampai sepekan sebelum pemungutan suara, The Literary Digest dengan penuh percaya diri mengumumkan bahwa elektabilitas Alf Landon jauh di atas Franklin D Roosevelt. Mereka mengumumkan bahwa Landon akan menang dengan 57 persen suara, sedangkan Roosevelt hanya akan meraih 43 persen suara. Saat itu, Roosevelt (Partai Demokrat) adalah petahana, sedangkan Alf Landon (Partai Republik) adalah penantang.

Munculnya Gallup

Tapi, tak seperti pilpres-pilpres sebelumnya, polling majalah yang didirikan Isaac Kaufmann Funk, itu, mulai dibayang-bayangi para pemain baru. Antara lain George Horace Gallup dan Elmo Roper. Kedua nama yang belakangan menjadi legenda survei Amerika, ini, memulai debutnya menjelang Pilpres 1936.

Untuk membaca elektabilitas capres, saat itu Gallup mengambil sampel 5.000 responden. Jumlah ini jelas seperti bumi dan langit jika dibanding jumlah sampel The Literary Digest. Meski demikian, cara Gallup mengambil sampel dengan cara baru, berbeda dengan yang dilakukan The Literary Digest.

Gallup yang merupakan ahli statistik –dan pendiri American Institute of Public Opinion pada 1935– tak sembarang ambil sampel. Dia menghitung secara cermat representasi demografinya. Dan, hasil survei Gallup mengunggulkan Roosevelt.

Saat itu, hasil survei Gallup masih dipandang sebelah mata. Apalagi, The Literary Digest telah berbilang pemilu membuktikan akurasinya.

Hari pemungutan dan penghitungan suara pun tiba. Dan, hasilnya, benar-benar membuat banyak mata terbelalak. Betapa tidak, kesaktian The Literary Digest luntur tak bersisa. Majalah bereputasi menjulang itu keok di tangan seorang Gallup.

Saat itu, prediksi Gallup memang tak seakurat survei-survei politik saat ini. Deviasinya terhadap hasil perhitungan suara yang resmi, masih cukup besar, yaitu plus-minus 6,8 persen. Namun, hasil ini tergolong akurat untuk zamannya.

Bias sampel orang kaya

Gallup dalam cover majalah TIME

Tapi, mengapa The Literary Digest bisa meleset memprediksi, padahal sampelnya na’udzubillah? Penjelasannya, ternyata, meski sampelnya besar, mereka rata-rata adalah orang-orang kaya yang cenderung bersimpati kepada Partai Republik, partai asal Landon. Bias inilah yang tidak disadari.

Apapun alasannya, The Literary Digest menjadi alamat menumpahkan kekesalan. Reputasinya ambruk, bisnisnya limbung. Majalah yang kerap tampil dengan cover cantik —karena telah menggunakan pengolahan foto dengan teknik montase— itu terancam gulung tikar.

Dua tahun setelah pilpres, majalah ini melakukan merger dengan Review of Reviews, untuk keluar dari krisis. Tapi, langkah ini tetap gagal. Majalah legendaris itu akhirnya bangkrut, dan data jutaan pelanggannya dibeli majalah Time.

Bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here