Kisah Para Dukun Politik (1): Ketika Straw Poll Mulai Mengguncang Pilpres AS

0
219

Sejak kapan jajak pendapat publik dalam kaitan dengan pemilu (election poll) digelar? Riwayatnya sudah hampir dua abad. Tapi, jajak pendapat modern seperti yang kita kenal sekarang menjelang pemilu dan pilkada, baru muncul setelah diperkenalkan oleh Gallup. Berikut kisah para dukun politik dan kesaktiannya, termasuk di Indonesia:

Photo: Geralt/Pixabay

Embrio jajak pendapat politik, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1824 silam, oleh The Harrisburg Pennsylvanian. Levelnya lokal, lingkupnya kota, dan metodenya kerap dikenal sebagai straw poll atau straw vote. Perhelatan ini dilakukan di kalangan pergerakan, dalam skala besar. Pada pertemuan ini, dilakukan pengambilan suara untuk isu tertentu. Pemberian suara itu dilakukan secara terbuka, tanpa surat suara.

Tradisi seperti ini, masih dapat ditemui di Amerika pada penyelenggaraan pemilu pendahaluan tipe kaukus. Bila dalam pemilu pendahuluan tipe primary kandidat presiden dipilih melalui surat suara secara rahasia –seperti pemilu pada umumnya– pada tipe kaukus suara diberikan dengan cara mengangkat tangan. Terbuka, tanpa rahasia-rahasiaan.

Straw poll pernah memberikan hasil akurat, ketika meramalkan kandidat presiden Andrew Jackson unggul atas John Quincy Adams, dengan skor 335:169. Pada pemilu presiden, Andrew Jackson benar-benar menang dengan meraih 99 electoral vote, sedangkan John Quincy Adams hanya meraih 84 electoral vote. Kedua kandidat berasal dari Partai Democratic-Republican.

Rasio angka straw poll itu memang jauh dibanding hasil pemilu aktual. Namun, hasil itu tak pelak membuat straw poll menjadi popular. Karena, inilah untuk pertama kalinya hasil pemilu presiden Amerika bisa diprediksi secara kuantitatif.

Straw poll tingkat nasional

Adapun jajak pendapat berskala nasional, baru digelar 92 tahun kemudian, yaitu pada 1916. Penyelenggaranya adalah The Literary Digest, sebuah majalah berita mingguan berpengaruh. Ketika itu, survei dilakukan dengan mengirimkan kartu pos ke rumah-rumah di seantero Amerika, untuk menanyakan pendapat mereka. Kartu pos yang dikirim balik lalu dihitung. Dari situlah hasil survei diumumkan. Cara ini masih masuk kategori straw poll.

Uji coba pertamanya adalah mengirim kartu pos sesuai jumlah oplah majalah tersebut. Ternyata, kendati masih terbatas, cara ini berhasil memprediksi secara benar siapa yang akan terpilih sebagai presiden Amerika pada 1916, yaitu Woodrow Wilson. Berhasil dengan cara itu, The Literary Digest melipatgandakan kartu pos pada pemilu berikutnya.

Jutaan kartu pos dikirimkan menjelang empat pilpres berikutnya, yaitu pilpres 1920, 1924, 1929, dan 1932. Dan, hasilnya kembali mengesankan. Yang terpilih sebagai presiden secara berturut-turut adalah Warren Harding, Calvin Coolidge, Herbert Hoover, dan Franklin Roosevelt, persis seperti ramalan The Literary Digest.

Sekadar catatan, oplah The Literary Digest pada 1927 sudah di atas satu juta eksamplar.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here