Kisah Para Dukun Politik (5): Polling Masuk Indonesia, Dipakai Bakin dan Berbagai Lembaga

0
149

Sejak kapan jajak pendapat publik dalam kaitan dengan pemilu (election poll) digelar? Riwayatnya sudah hampir dua abad. Tapi, jajak pendapat modern seperti yang kita kenal sekarang menjelang pemilu dan pilkada, baru muncul setelah diperkenalkan oleh Gallup. Berikut kisah para dukun politik dan kesaktiannya, termasuk di Indonesia:

Photo: Geralt/Pixabay

Di Indonesia, survei politik sebenarnya bukanlah hal yang benar-benar baru. Lembaga survei sudah hadir di Indonesia sejak 1967. Yang mengawalinya adalah PT Suburi. Kehadiran Suburi tak lepas dari dinamika lembaga survei di Amerika, yang membuat terpesona Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Sjarif Thajib.

“Kesempatan itu datang ketika Asia Research Organization yang berpusat di Manila menawarkan diri masuk dan menjalankan bisnis riset di Indonesia,” demikian dicatat Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam buku Jajak Pendapat dan Pemilu di Indonesia: Kinerja Lembaga Jajak Pendapat dalam Meramal Hasil Pemilu 1999 dan 2004.

LSI —yang mengutip laporan majalah Tempo edisi Juni hingga September 1972— menyatakan masuknya Suburi juga dibantu oleh Panitia Penanaman Modal Asing yang saat itu diketuai Prof Sadli dari Universitas Indonesia. Panitia tersebut merasa Indonesia memerlukan biro riset.

Pada 1969, Suburi melakukan survei prapemilu (pre election survey), yang didanai bakin.

Saat itu, Suburi langsung mendapat banyak proyek penelitian terutama dari lembaga dan departemen pemerintah serta kedutaan asing. Lembaga pemerintah yang memakai jasa Suburi antara lain Pemerintah DKI Jakarta untuk meneliti perbaikan kampung dan Departemen Penerangan untuk melakukan penelitian soal TVRI. Suburi juga pernah melakukan penelitian soal pendidikan dan Keluarga Berencana.

Sedangkan, lembaga asing yang menyewa jasa Suburi antara lain Dinas Penerangan AS (USIS). Dua kali USIS meminta Suburi melakukan riset. Pertama soal pendapat pendengar radio Suara Amerika. Kedua, soal bacaan berbahasa Inggris yang dikeluarkan oleh USIS.

Pada 1969, Suburi melakukan survei prapemilu (pre election survey). Saat itu, semua berjalan baik-baik saja. Maklum, yang memesan survei adalah lembaga pemerintah. Survei itu didanai oleh Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

Tapi, pada survei-survei berikutnya, terutama saat Suburi melakukan jajak pendapat terkait popularitas tokoh-tokoh berkuasa di Indonesia, Suburi tersandung masalah.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here