Kisah Para Dukun Politik (3): Tamparan Gallup untuk Winston Churchill

0
279

Sejak kapan jajak pendapat publik dalam kaitan dengan pemilu (election poll) digelar? Riwayatnya sudah hampir dua abad. Tapi, jajak pendapat modern seperti yang kita kenal sekarang menjelang pemilu dan pilkada, baru muncul setelah diperkenalkan oleh Gallup. Berikut kisah para dukun politik dan kesaktiannya, termasuk di Indonesia:

Setelah keberhasilan prediksi hasil Pilpres 1936, kesaktian Gallup kembali diuji dalam pilpres-pilpres berikutnya. Dan, hasilnya konsisten. Pada Pilpres 1940 dan 1944, Gallup kembali unjuk gigi dan meramalkan Roosevelt yang akan keluar sebagai pemenangnya. Dan, prediksinya kembali benar secara mencengangkan.

Tapi, Gallup sesungguhnya seorang idealis. Dia melakukan survei politik semata untuk menemukan pendapat objektif dalam masyarakat. Demi memastikan independensi dan objektivitasnya, Gallup menolak menerima dana dari sponsor, terutama dari Partai Republik dan Partai Demokrat. Komitmen Gallup ini kokoh dipertahankan oleh pewarisnya hingga saat ini.

Setelah semua keberhasilan ramalan politiknya itu, George Gallup kemudian dinobatkan sebagai seorang pioner survei dengan teknik sampling, serta penemu Gallup poll, sebuah metode statistik yang berhasil dari survei sample yang merefleksikan opini publik. Reputasinya menjulang.

Menghebohkan Inggris

Gallup pun melebarkan sayap ke luar Amerika, dengan mendirikan anak perusahaan di Inggris. Pada 1945, dia membuat heboh Inggris Raya, karena prediksinya tentang kemenangan Partai Buruh dalam pemilu terbukti benar. Padahal, saat itu, kebanyakan komentator politik mengunggulkan Partai Konservatif yang dipimpin Winston Churchill. Apalagi, saat itu Churchill adalah Perdana Menteri yang terbilang popular.

Gallup Poll mengumumkan hasil surveinya pada akhir Mei 1945, yang dimuat sejumlah surat kabar di Inggris. Gallup menyatakan Partai Buruh akan meraih 40 persen, Partai Konservatif (24 persen), Partai Liberal (12 persen), komunis (dua persen), kalangan persemakmuran (dua persen), 13 persen belum memutuskan (undecided), dan tujuh persen lain-lain (lihat: kliping koran The Courier Mail edisi 29 Mei 1945).

Survei ini diumumkan dua bulan sebelum pemungutan suara 5 Juli 1945. Saat hasil survei ini dirilis, nama-nama caleg bahkan belum diumumkan. Isu-isu politik juga belum benar-benar jelas karena kampanye belum lagi dimulai. Tapi, saat kotak suara dibuka, publik Inggris terkejut melihat hasil pemilu aktual yang seturut survei Gallup: partainya Churchill benar-benar kalah!

Beroperasi di 140 negara

Pada 1947, dia meresmikan berdirinya Gallup International Association, sebuah organisasi internasional beranggotakan organisasi polling. Tapi, di saat namanya berkibar, setahun kemudian, Gallup justru melakukan kesalahan fatal (lihat Gallup Pun Pernah Salah).

Demi memastikan independensi dan objektivitasnya, Gallup menolak menerima dana dari sponsor, terutama dari Partai Republik dan Partai Demokrat

Pada 1958, Gallup menyatukan seluruh operasisi polling-nya ke bawah bendera The Gallup Organization. Inilah yang menjadi cikal bakal Gallup modern. Setelah kematiannya pada 1984, The Gallup Organization kemudian dijual kepada Selection Research Incorporated (SRI) of Lincoln.

Kini, Gallup telah memiliki 40 kantor di 27 negara. Gallup yang bermarkas di Washington DC, memiliki empat divisi. Yaitu Gallup Poll, Gallup Consulting, Gallup University, dan Gallup Press. Sejak 2005, Gallup Poll secara regular menyelenggarakan survei opini publik di lebih dari 140 negara, yang mewakili 95 persen populasi orang dewasa di dunia.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here