Kampanye Marathon (2): Kontestan Harus Pandai Jaga Napas

0
283

Mestinya, curi start kampanye sudah menjadi cerita usang dalam perhelatan pesta demokrasi di Indonesia. Sebab, waktu untuk berkampanye, telah benar-benar dilepas. Meminjam ungkapan anak muda pinggiran Jakarta, “Silakan kampanye sampai jontor!” Lalu, apa dampaknya?

Photo: Moteoo/Pixabay

Salah satu efek positif kampanye berdurasi panjang bak lari marathon ini, adalah terciptanya relaksasi. Energi yang dikeluarkan selama berbulan-bulan, membuat ketegangan menurun. Alhasil, jumlah korban tewas akibat kampanye pun turut berkurang. “Tidak ada satu nyawa pun melayang selama Pemilu 2009. Itu patut menjadi catatan,” kata anggota KPU periode 2007-2012, Abdul Aziz, kepada penulis.

Masa kampanye tiga pekan pada pemilu-pemilu sebelumnya, memang ibarat lari sprint. Semua energi ditumpahkan di tiga pekan itu. Di tiga pekan itu, ruang publik —mulai dari ruang terbuka di lapangan dan jalanan hingga media massa— bak dibom oleh lambang dan tanda gambar partai, foto caleg, slogan, dan janji-janji.

Pada pemilu 1999, sebanyak 112 orang tewas dalam masa kampanye. Pemilu 2004, yang tewas berjumlah 31 orang.

Pada Pemilu 2004 lalu, kampanye yang hanya tiga pekan, membuat massa yang turun ke jalan-jalan bak baru terlepas dari kekangan. Kampanye berlangsung ugal-ugalan, terutama arak-arakan di jalanan. Akibatnya, terjadi 44 kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia. Kecelakaan itu membuat 31 orang tewas, 66 luka berat, dan 225 luka ringan. Mabes Polri mencatat 121.859 pelanggaran lalu lintas, yang separuhnya ditilang, selebihnya dibiarkan.

Pada Pemilu 1999 lalu, yang merupakan pemilu pertama di era reformasi, jumlah korban tewas, mengutip Kajian Pemilu 1999, berjumlah 112 orang. Korban-korban itu, selain dari kecelakaan lalu lintas di jalan-jalan, juga karena adanya gesekan antarpendukung partai. Masih untung kampanye saat itu tidak rusuh seperti yang diramalkan banyak pengamat politik di luar negeri.

Lebih sesuai dengan sistem pemilu

Langkah DPR yang memperpanjang masa kampanye diapresiasi banyak kalangan. Cara ini, menurut pengamat politik UGM, Ari Dwipayana, bisa membuat partai dan caleg-calegnya, serta calon anggota DPD, akan melakukan kerja-kerja politik serius di akar rumput. Tidak semata mengandalkan cara-cara instan kampanye di media massa, karena terdesak waktu.

Photo: Courtesy Youtube

Pakar komunikasi politik UI, Effendi Ghazali, juga menilai tepat perpanjangan masa kampanye itu. Sebab, akan membuat visi, misi, dan program partai lebih menukik ke akar rumput. Selain itu, perbedaan antara satu partai dengan partai lain, juga akan lebih bisa dicermati. Sehingga, masyarakat tak semata dibuai jargon-jargon ideologis, tapi dapat mengecek detail teknisnya dalam bentuk programnya.

Lebih dari itu, masa kampanye yang diperpanjang ini juga kompatibel dengan sistem pemilu proporsional terbuka, di mana pemilih bukan hanya memilih partai, tapi juga memilih orang. Sehingga, para calon anggota legislatif (caleg) pun perlu lebih dikenal oleh masyarakat pemilih.

Meski demikian, dalam kampanye berdurasi panjang itu, partai harus pandai jaga napas. Berkampanye jor-joran, apalagi di awal-awal masa kampanye, sama saja dengan menabur garam di lautan. Pesan-pesan yang disampaikan bisa menguap tertimpa pesan-pesan berikutnya. Apalagi, masyarakat Indonesia konon mudah lupa.

Bekas Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu Partai Golkar, Rully Chairul Azwar, pernah mengungkapkan, bahwa ada dua hal yang penting dimenej dalam kampanye yang bak lari marathon. Yaitu, dana dan strategi. “Kurva harus terus naik, dengan puncaknya pada tiga pekan terakhir,” katanya. ■

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here