Mengenal Formula Elektoral (1): Dua Metode Konversi Suara Menjadi Kursi

0
160

Bagaimana suara yang anda berikan dalam pemilu menjadi kursi, dan bagaimana pula para caleg/kandidat terpilih (yang akan menduduki kursi itu) ditentukan? Caranya adalah dengan menggunakan formula elektoral. Ini merupakan salah satu elemen penting dan paling harfiah dalam kajian sistem pemilu.

Formula elektoral untuk mengonversi suara menjadi kursi, terbagi ke dalam dua kategori dasar. Yaitu, Metode Kuota dan Metode Divisor (highest average). Sebagian besar negara demokrasi di dunia, menggunakan dua metode ini.

Photo: Geralt/Pixabay

Indonesia pernah menerapkan kedua-duanya. Selama sebelas pemilu, sejak Pemilu 1955-2014. Indonesia menerapkan Metode Kuota dengan berbagai varian, eksperimen, dan korupsinya. Tapi, pada Pemilu 2019, Indonesia hijrah ke Metode Divisor, wabilkhusus varian Sainte-Lague (murni).

Metode Kuota ditandai dengan penggunaan bilangan pembagi pemilih (BPP) yang membagi jumlah total suara sah dengan jumlah kursi yang dialokasikan di distrik atau daerah pemilihan tertentu. Pengoperasiannya selalu menghasilkan sisa suara yang memerlukan penghitungan tahap berikutnya untuk menghabiskan sisa kursi. Biasanya, penghitungan tahap kedua ini menggunakan metode Largest Remainder.

Sedangkan, Metode Divisor, menggunakan bilangan pembagi tertentu (BPT) yang sudah fixed, atau kita sebut saja “bilangan pembagi tetap”. Pada Metode Divisor ini, tak dikenal BPP maupun sisa suara. Sebab suara langsung dibagi habis dengan BPT dan diranking.

Tapi, selain dua keluarga besar tersebut, masih ada pula formula ketiga, yang biasa dikategorikan sebagai metode lain-lain.

Berikut metode-metode itu:

1. METODE DIVISOR (HIGHEST AVERAGE):

D’Hondt
Dengan metode ini, suara yang diraih setiap partai dibagi berdasarkan angka serial: 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya.

Sainte Laguë (Murni)
Dengan metode ini, suara yang diraih setiap partai dibagi berdasarkan angka serial: 1, 3, 5, 7, 9, dan seterusnya.

Sainte Laguë (Modifikasi)
Dengan metode ini, suara yang diraih setiap partai dibagi berdasarkan angka serial: 1.4, 3, 5, 7, 9, dan seterusnya. Metode ini lebih umum digunakan ketimbang Sainte Lague murni.

Danish
Dengan metode ini, suara yang diraih setiap partai dibagi berdasarkan angka serial: 1, 4, 7, 10, 13, dan seterusnya. Metode ini disebut Danish Method, karena hanya digunakan di Denmark.

2. METODE KUOTA

Hare
Hare quota adalah penghitungan dengan rumus: total jumlah suara sah dibagi dengan total jumlah kursi yang harus diisi.

Droop
Droop quota adalah penghitungan dengan rumus: (total suara sah/jumlah kursi + 1) + 1.

Imperiali
Imperiali quota adalah penghitungan dengan membagi total jumlah suara sah + 2 atau lebih kursi yang harus diisi.

3. METODE LAIN-LAIN (OTHERS)

Hagenbach-Bischoff
Metode ini merupakan varian dari Droop quota. Metode ini menggunakan Droop quota untuk penghitungan tahap awal, dan menggunakan D’Hondt untuk pendistribusian sisa kursi kepada partai, dimulai dari sisa suara terbesar.

(Hare)-Niemeyer
Metode ini mempunyai efek yang sama dengan Hare quota. Meski demikian, dilakukan dengan cara lain: (jumlah suara partai/total suara sah) x jumlah total kursi. Metode ini pernah digunakan di Jerman.

Sumber: European Democracies dan berbagai sumber, diolah Harun Husein.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here