Floating Mass & Voters (3): Dibajak Elite, Pemilih Kian Menjauhi Partai

0
342

Banyak hal yang mengambang hari-hari ini. Pemilih di Indonesia sebagian ternyata adalah pemilih mengambang alias (floating voters). Partai-partainya pun mengamblang alias floating party. Mengapa semua ini bisa terjadi? Adakah hubungannya dengan politik massa mengambang (floating mass) di era Orde Baru? Atau memang partai-partai di Indonesia yang semakin ditinggalkan pemilih setianya?

Mengapa pemilih semakin asing dengan partai politik? LSI menemukan karena menurunnya kepercayaan kepada partai. Pemicunya banyak. Antara lain ketidakjelasan program dan platform partai. Bahkan, perbedaan antara satu partai dengan partai lain semakin tidak jelas. Partai-partai pun cenderung mempunyai kelakuan yang sama, yaitu berburu rente, dan hanya mendatangi serta menyapa pemilih pada saat pemilu atau pilkada.

Kondisi ini sebenarnya ironis. Sebab, aturan perundangan di bidang politik saat ini, berlawanan 180 derajat dibanding Orde Baru. Bila Orde Baru memotong relasi partai dengan grass root melalui kebijakan massa mengambang, di era reformasi partai-partai justru dipaksa mengakar oleh UU Partai Politik dan UU Pemilu. Itu terlihat dari persyaratan jumlah kepengurusan untuk mendapatkan badan hukum dan menjadi peserta pemilu.

Dalam UU No 2/2011 tentang Partai Politik, misalnya, partai yang hendak mendapatkan status badan hukum harus mempunyai kepengurusan di 100 persen provinsi, 75 persen kab/kota, dan 50 persen kecamatan. Pada 2011, ada 33 provinsi, 497 kabupaten/kota, dan 6.594 kecamatan. Dan, syarat-syarat itu terus dinaikkan, setiap kali UU Partai Politik direvisi. Hal yang sama terjadi dengan syarat menjadi kontestan pemilu dalam UU Pemilu.

Photo: RichardsDrawing/Pixabay

Persoalannya, struktur yang dibangun itu tidak lagi banyak berfaedah. Sebab, partai-partai cenderung tak lagi fungsional. Fungsi-fungsi partai politik seperti kaderisasi dan pendidikan politik mandeg. Padahal, menurut Ari Dwipayana, justru lewat jalur itulah, partai politik bisa berharap menangguk pemilih loyal yang bisa menjamin stabilitas dan kontinuitas dukungan.

Partai-partai menjadi tidak fungsional, kata Ari Dwipayana, karena telah dibajak oleh elitenya. “Dulu, di era Orde Lama, kita punya tradisi berpartai, tapi dihancurkan pada masa Orde Baru. Sejak itu, orang tidak lagi menggunakan partai sebagai alat perjuangan, karena partai menjadi korporatis, alat penguasa. Tapi, setelah reformasi, partai tetap tidak menjadi alat masyarakat. Dia menjadi alat elite untuk memperoleh dukungan politik setiap momen pemilu,” kata Ari.

Ari menilai kebijakan massa mengambang Orde Baru mempunyai pengaruh terhadap pemilih mengambang saat ini. Tapi, pengaruhnya tak signifikan. Sebab, ruangnya telah dibuka lebar di era reformasi. Meski demikian, Ari melihat kondisi saat ini justru mirip floating mass di era Orde Baru. Karena partai tidak mengakar. “Partai tidak lagi punya akar konstituensi yang jelas, sehingga disebut sebagai floating party.”

Kemampuan partai-partai menangguk suara pun kian payah. Berdasarkan data hasil tiga pemilu, sejak Pemilu 1999 sampai dengan Pemilu 2009, bukan hanya persentasenya yang menurun, tapi juga angka absolutnya. Suara yang berhasil diraih seluruh partai peserta Pemilu 1999 lalu, yaitu 105,8 juta, lebih besar dibanding suara yang diraih seluruh partai peserta Pemilu 2009 yang hanya 104 juta. Padahal, jumlah pemilih terdaftar sejak Pemilu 1999 hingga 2009, naik hingga 50 juta. Bahkan, meskipun persentase partisipasi pemilih menurun, namun angka absolutnya sesungguhnya tak melorot drastis.

Fakta itu kian suram dengan terus meningkatnya angka pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Pada Pemilu 2004, angkanya sudah mencapai 49,7 juta. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibanding Pemilu 2004. Angka ini juga lebih dari dua kali lipat suara Partai Demokrat yang merupakan pemenang pemilu. Apa maknanya? Angka ini mengindikasikan semakin besarnya pemilih mengambang yang enggan ke TPS. Mereka tak lagi menjadi swing voter, tapi golput! ■

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here