Floating Mass &Voters (2): Era Bulan Madu, Bubble Politics, dan Protes Pemilih

0
176

Banyak hal yang mengambang hari-hari ini. Pemilih di Indonesia sebagian ternyata adalah pemilih mengambang alias (floating voters). Partai-partainya pun mengamblang alias floating party. Mengapa semua ini bisa terjadi? Adakah hubungannya dengan politik massa mengambang (floating mass) di era Orde Baru? Atau memang partai-partai di Indonesia yang semakin ditinggalkan pemilih setianya?

Menyusul tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998, kondisi politik yang penuh kekangan pun kemudian mengalami liberalisasi dan relaksasi. Tak ada lagi pembantasan mendirikan partai, tak ada lagi pemaksaan menggunakan asas tunggal, tak ada lagi pembatasan pembentukan kepengurusan hingga tingkat desa/kelurahan. Semua itu ditegaskan dalam UU No 2/1999 tentang Partai Politik.

Photo: Clker-Free-Vector-Images/Pixabay

Maka, partai politik pun kemudian tumbuh bak jamur di musim hujan. Yang dulu tiarap, kini tampil ke permukaan. Setelah melalui proses verifikasi, sebanyak 48 partai di antaranya lolos menjadi peserta Pemilu 1999.

Saat itu, terjadi pula ledakan partisipasi pemilih. Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat angka partisipasi pemilih (voters turn out) Pemilu 1999 mencapai 92,94 persen. Angka ini memang lebih rendah dibanding rata-rata partisipasi pemilih pada pemilu-pemilu Orde Baru. Namun, angka ini lebih murni. Sebab, pada era Orde Baru, yang terjadi bukanlah partisipasi, melainkan lebih banyak merupakan mobilisasi.

Lembaga Survei Indonesia (LSI), dalam publikasi survei bertajuk “Pemilih Mengambang dan Prospek Perubahan Kekuatan Partai Politik”, Mei 2011, mencatat indentifikasi masyarakat pemilih terhadap partai politik (party id) pada 1999, masih sangat tinggi. Angkanya mencapai 86 persen. Dengan demikian, pemilih mengambang (floating voter) saat itu, hanya 14 persen.

Party id adalah perasaan seseorang bahwa partai tertentu adalah identitas politiknya, atau dia merasa dekat dengan partai tertentu. Mereka kerap pula disebut sebagai pemilih loyal.

Pada pemilu pertama di era reformasi tersebut, PDI Perjuangan tampil sebagai pemenang dengan meraih 33,74 persen suara, atau naik 30,48 percentage point dibanding Pemilu 1997. Kebanyakan pemilih saat itu, memang mempunyai harapan besar terhadap Partai Banteng yang mengusung jargon wong cilik itu.

Protest voters

Tapi, berbagai peristiwa saat PDIP berkuasa dan Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, meruntuhkan tingginya ekspektasi para pemilih partai itu. Kenyataan itu kemudian menggerus kesetiaan mereka terhadap PDIP. Dampaknya terlihat pada Pemilu 2004, ketika PDIP ditinggalkan hampir separuh pemilihnya. Sebanyak 15,21 persen pemilih PDIP berayun (swing) ke partai lain. Hanya 18,53 persen yang tetap setia di kandang Banteng.

Apa yang terjadi? “Sesungguhnya itu semacam protest voters. Cara pemilih untuk menghukum partai kalau tidak berhasil memperjuangkan harapannya. Pada Pemilu 1999, ketika PDIP menjadi sumber ekspektasi, pemilih PDIP memperlihatkan kecenderungan membesar. Menciptakan bubble politics atau bubble voters. Tapi, ketika harapan itu tidak terpenuhi, mereka menghukum PDIP dengan memilih yang lain pada Pemilu 2004. Bubble-nya pecah. Itu ciri pemilih mengambang. Mudah sekali memecahkan gelembung-gelembung itu,” kata pengamat politik UGM, Ari Dwipayana, kepada penulis, medio Maret 2012.

Tapi, melihat besarnya persentase yang pindah ke lain partai, bisa jadi yang hengkang dari PDIP bukan hanya kelompok pemilih mengambang, tapi juga para pemilih loyal. Sekadar catatan, pada Pemilu 2004, selain Megawati Soekarnoputri, dua putri Bung Karno lainnya juga turun gunung dan memimpin partai peserta pemilu. Yaitu, PNI Marhaenisme yang dipimpin Sukmawati Soekarnoputri dan Partai Pelopor yang dipimpin Rachmawati Soekarnoputri. Bekas petinggi PDIP lainnya yang juga mendirikan partai adalah Eros Djarot dengan PNBK, sementara partai bekas PDI Soerjadi pun tetap eksis.

Ke mana perginya pemilih PDIP, dideteksi oleh exit poll yang dilakukan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Sebanyak delapan persen beralih ke Partai Demokrat, tujuh persen ke Partai Golkar, empat persen ke PKS, tiga persen ke PAN, masing-masing satu persen ke PPP dan PKB, 14 persen ke partai-partai lain, dan 27 persen menolak memberi tahu beralih ke partai mana. Exit poll itu mendapati hanya 36 persen pemilih PDIP yang tetap setia.

Meski demikian, penurunan kesetiaan pemilih bukan hanya terjadi di PDIP. Tapi, juga menerpa hampir seluruh partai. Secara keseluruhan, LSI mencatat, angka party id pada Pemilu 2004, tinggal 54 persen. Dengan demikian, terjadi penurunan 32 percentage point dibanding Pemilu 1999.

Golkar come back

Pada Pemilu 2004, Partai Golkar keluar sebagai pemenang. Tapi, kemenangan Golkar ini, sebenarnya lebih disebabkan turunnya suara PDIP. Sebab, hasil pemilu memperlihatkan suara Beringin hanya sedikit bertambah. Pada Pemilu 1999, Golkar meraih 23,7 juta suara, sedangkan pada Pemilu 2004 meraih 24,5 juta suara.

Kendati suara Partai Golkar bertambah, persentasenya justru menurun dari 22,44 persen menjadi 21,58 persen. Alhasil, kendati menang pemilu, LSI menyatakan swing voter di Golkar justru minus. Hal yang sama dialami PDIP, PPP, PAN, PKB. Di level partai menengah atas, yang mendapat swing positif hanya PKS, PBB, dan Partai Demokrat.

pada tahun 2011, survei menemukan pemilih setia tinggal 20 persen.

Pada Pemilu 2009, sebagian besar pemilih mengambang ini masih menggunakan hak pilih. Seperti halnya PDIP pada Pemilu 1999, mereka melihat Partai Demokrat sebagai alternatif. Partai yang didirikan SBY itu berhasil menggerogoti pemilih dari partai-partai lain. Exit poll LP3ES menyatakan Partai Demokrat berhasil menarik 13,4 persen pemilih Partai Golkar; 11,9 persen pemilih PPP; 9,1 persen pemilih PKS; 8,7 persen pemilih PDIP; 7,5 persen pemilih PKB; dan 7,3 persen pemilih PAN.

Tapi, partai-partai dan kandidat –hasil Pemilu 2004 dan 2009– yang manggung, ternyata kembali mengecewakan para pemilih. Maka, dalam surveinya, LSI menemukan jumlah pemilih setia kembali menurun menjadi 20 persen pada 2009, atau turun 34 percentage point dibanding 2004. Dengan demikian, pemilih yang mengambang telah melonjak drastis menjadi 80 persen. Angka ini bertahan hingga survei LSI Mei 2011.

Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here