Cerita Kuota Perempuan (1): Mengokupasi 20 Persen Kursi Parlemen Dunia

0
184

Menarik mencermati perkembangan keterwakilan perempuan di tingkat global. Betapa tidak, grafiknya dalam dua dekade ini terus menanjak dan tak kunjung turun. Pada Juni 2012, misalnya, perempuan telah berhasil ‘mengokupasi’ 20 persen kursi parlemen di dunia.

Photo: Geralt/Pixabay

Inter-Parliamentary Union (IPU), juga sangat rajin mencatat perkembangannya. Bahkan, memperbaharui datanya setiap bulan. Pada akhir Mei 2012 lalu, misalnya, angkanya masih 19,8 persen. Tapi akhir Juni telah naik menjadi 20 persen. Angka ini merupakan rata-rata perempuan di parlemen unikameral maupun bikameral, di majelis rendah maupun majelis tinggi.

Banyak yang menilai, angka ini merupakan buah dari penerapan kebijakan kuota perempuan dalam pemilu (electoral gender quota), atau biasa juga disebut affirmative action. Salah satunya adalah Drude Dahlerup, akademisi dari Departemen Ilmu Politik, Universitas Stockholm, Swedia.

Demam kuota

Dahlerup menilai, gagasan diskriminasi positif yang telah menyebar ke berbagai belahan dunia, bak telah menciptakan sebuah demam kuota di negara-negara yang dihinggapinya. Banyak negara, terutama di Afrika, Balkan, Amerika Latin, dan Asia, yang keranjingan mengadopsi gagasan ini.

Demam kuota ini, pada gilirannya, menciptakan sejumlah perubahan dramatis. Negara-negara Skandinavia —seperti Finlandia, Eslandia, Norwegia, Swedia, dan Denmark— yang selama beberapa dekade kokoh bertengger di posisi puncak negara-negara dengan keterwakilan perempuan tertinggi di parlemen, akhirnya goyah.


Negara seperti Rwanda, Argentina, Kostarika, Mozambik, Kuba, dan Afrika Selatan, secara mengejutkan telah berlomba nangkring di posisi puncak pada daftar yang disusun Inter-Parliamentary Union (IPU).

Berdasarkan penelisikan penulis atas data IPU, perubahan itu mulai terjadi September 2003, ketika Rwanda, negara di jantung Afrika, tiba-tiba menyodok ke posisi pertama. Padahal, sampai dengan akhir 2002, Swedia berada di peringkat satu dengan 45 persen, disusul Denmark (38 persen), Finlandia (36,5 persen), Norwegia (36,4 persen), Kostarika (35,1 persen), Eslandia (34,9 persen), Belanda (34,0 persen), Jerman (32,2 persen). Sementara, Rwanda masih berada di posisi ke-21.

Belum ideal

Angka 20 persen keterwakilan perempuan per Juni 2012 memang belum benar-benar ideal. Angka minimal yang didambakan para pejuang politik perempuan di seluruh dunia adalah 30 persen. Meski demikian, jika tren positif ini terus berlanjut, dan demam kuota tak surut, bukan mustahil angka itu suatu saat akan tercapai.

“Meskipun kontroversial, electoral gender quota telah terbukti sebagai instrumen yang mempunyai efektivitas tinggi untuk mencapai equality, asalkan diterapkan secara benar,” tulis Drude Dahlerup dalam paper bertajuk No Quota Fever in Europe?. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here